Home » Artikel

Artikel

Mewaspadai Anemi Pada Kehamilan

Anemia adalah manifestasi dari keadaan yang diakibatkan pendeknya kelangsungan hidup sel darah merah sebagai berkurangnya kadar hemoglobin darah (misalnya hemolisis, kehilangan darah), produksi sel darah merah yang tidak mencukupi (misalnya keadaan defisiensi, kegagalan sumsum tulang), atau kombinasi keduanya.

Anemia Dalam kehamilan

Selama kehamilan terjadi adaptasi secara psikologik maupun fisiologis secara  sistemik, salah satunya adalah  pada sistem kardiovaskular khususnya volume darah. Volume darah meningkat sekitar 1500 ml (nilai normal: 8,5% sampai 9% berat badan) terdiri atas 1000 ml plasma ditambah 450 ml sel darah merah. Peningkatan ini mulai sekitar minggu ke-10 sampai ke-12, mencapai puncak sekitar 30% sampai 50% di atas volume normal  pada minggu ke-20 sampai ke-26, dan menurun setelah minggu ke-30. Peningkatan volume merupakan mekanisme protektif karena  (1) system vascular yang mengalami hipertrofi akibat pembesaran uterus, (2) hidrasi jaringan janin dan ibu yang harus adekuat saat ibu berdiri atau telentang, dan (3) cadangan cairan untuk mengganti darah yang hilang selama proses melahirkan dan puerperium.

Peningkatan volume ini menyebabkan  rasio  eritrosit terhadap volume cairan menurun  sebagai efek dilusi.  Rerspon tubuh terhadap penurunan  ini adalah  akan  mengadaptasi dengan meningkatkan produksi eritrosi 30% sampai 33% selama kehamilan. Walaupun produksi eritrosit meningkat tetapi  secara kuantitatif  rasio normal tidak pernah akan tercapai. Apabila nilai hemoglobin turun sampai 10 g/dl atau lebih dan hematokrit turun sampai 35% atau lebih, maka menyebabkan menifestasi anemi. Karena peningkatan volume cairan ini sebab yang fisiologi maka anemi yang terjadi disebut sebagi anemi fisisiologis. Penurunan lebih jelas terlihat selama trimester kedua, saat terjadi ekspansi volume darah yang cepat.

Mengingat  bahaya  selama kehamilan, perslinan dan pasca persalinan maka  dilakukan berbagai upaya  untuk mengatasi  anemi ini. Salah satunya adalah dengan program pemberian tablet Fe  mulai trimester II dengan  maksud agar pada trimester III eritrosit sudah optimal secara kuantitatif maupun kualitatif.  Tetapi pada kenyataanya 18,5% ibu hamil masih, 57,9% ,  pseudoanemia. Badan kesehatan dunia (World Health Organization/WHO) melaporkan bahwa prevalensi ibu-ibu hamil yang mengalami anemia sekitar 35-75%, yang semakin meningkat seiring dengan pertambahan usia kehamilan.

Analisa

Ada awalnya eritrosit  masih dalam bentuk stemcell  yang pluripoten dan terus berdifferensiasi sampai maturasi membutuhkan semua element nutrient (harbohidrat, asam lemak, protein)  dan elektrolit ( Fe. Mg. Cu, Co dsb). Elemen ini sangat berfungsi untuk membentuk struktur rantai hemoglobin. Bila salah satu tidak ada atau berkurang maka morfologi eritrosit tidak akan sempurna.    Secara klinis  manifestasi yang muncul adalah anemi tetapi secara morfologis akan memberikan gambran yang sangat berbeda bergantung substrat yang tidak ada

 

 

Gambar 1.  Struktur rantai Hemoglobin

 

Oleh karena itu bila di lihat secara patogenesis morfologis  akan di dapatkan beberapa bentuk anemia

Menurut Sarwono (2007), anemia dalam kehamilan dapat dibagi sebagai berikut :

  1. Anemia defisiensi besi……………………………………….……62,3%
  2. Anemia megaloblastik……………………………………………..29,0%
  3. Anemia hipoplastik……………….…………………………………8,0%
  4. Anemia hemolitik……………………………………………………0,7%

 

  1. Anemia Defisiensi Besi

Anemia dalam kehamilan yang paling sering dijumpai adalah anemia akibat kekurangan besi. Kekurangan ini dapat disebabkan karena kurang masuknya unsur besi dengan makanan, karena gangguan resorpsi, gangguan penggunaan, atau karena terlampau banyaknya besi keluar dari badan, misalnya pada perdarahan.

 

Gambar 2.  Peran Fe dalam sintesis eritrosit

  1. Anemia Megaloblastik

Anemia megaloblastik dalam kehamilan disebabkan karena defisiensi asam folik (pteroylglutamic acid), atau karena defisiensi vitamin B12 (cyanocobalamin).  Beberapa penyebab kekurangan B 12 adalah:

a. Tidak ada produksi asam lambung  (Achlorhydria)

  1. Asupa makanan yang tidak adekua
  2. Kerusakan molekul produsen  di lambung
  3. Coeliac disease
  4. diverticulosis, fistula, intestinal anastomosis atau infection marine parasite Diphyllobothrium latum
  5. Malabsorbsi Vit B12
  6. Pancreatitis cronic

 

Gambar 2  morfologi megalobalstic anemi yang  bercirikan hipersegmentasi neutrofil

Penyebab kekurangan asam folat adalah :

  1. Alcoholism
  2. Kekurangan asupan makanan
  3. Peningkatan kebutuhan
  4. Malabsorbsi

 

  1. Anemia Hipoplastik

Anemia pada wanita hamil yang disebabkan karena sumsum tulang kurang mampu membuat sel-sel darah baru, dinamakan anemia hipoplastik dalam kehamilan.

  1. Anemia Hemolitik

Anemia hemolitik disebabkan karena penghancuran sel darah merah berlangsung lebih cepat dari pembuatannya. Wanita dengan anemia hemolitik sukar menjadi hamil; apabila ia hamil, maka anemianya biasanya menjadi lebih berat. Sebaliknya mungkin pula bahwa kehamilan menyebabkan krisis hemolitik pada wanita yang sebelumnya tidak menderita anemia.

Menurut Tarwoto (2007), derajat anemia berdasarkan kadar hemoglobin menurut WHO, adalah:

  1. Ringan Sekali : Hb 10 g/dl – Batas Normal
  2. Ringan             : Hb 8 g/dl – 9,9 g/dl
  3. Sedang             : Hb 6 g/dl – 7,9 g/dl
  4. Berat                 : Hb < 6 g/dl
  1. Klasifikasi Anemia Berdasarkan Morfologi Eritrosit
  1. Anemia Mikrositik Hipokromik

Description: K:KTIKTI YENYDATA KTI QGAMBARhipo mikro.PNG

Defisiensi besi merupakan penyebab terpenting suatu anemia mikrositik hipokrom, dengan ketiga indeks eritrosit (MCV, MCH, dan MCHC-volume eritrosit rata-rata, dan kadar hemoglobin) berkurang dan sediaan apus darah menunjukkan eritrosit yang kecil (mikrositik) dan pucat (hipokrom). Gambaran ini disebabkan oleh defek sintesis hemoglobin, (Hoffbrand, 2005).

 

 

  1. Anemia Normokromik Makrositik

Description: K:KTIKTI YENYDATA KTI QGAMBAR ormo makro.PNGDescription: G:SEMESTER V & VIKTI YENYDATA KTI QGAMBARmgaloblastik 1.jpg

Menurut Hoffbrand (2005), pada anemia makrositik eritrosit berukuran besar abnormal (volume eritrosit rata-rata, MCV >95 fL). Ada beberapa penyebab yang dapat dibagi secara luas berdasarkan gambaran eritroblas yang sedang berkembang dalam sumsum tulang menjadi megaloblastik dan non-megaloblastik.

Menurut Isbister, James (1999), jika MCV >110 fl, tampaknya penyebab kemungkinan besar adalah anemia megaloblastis atau suatu anemia diseritropoietik. Dalam film darah, akan diperlihatkan makrosit oval, anisositosis jelas dan poikilositosis menunjukkan ke arah megaloblastosis. Makrosit bulat, tipis, sel-sel target, anisositosis ringan dan poikilositosis menandakan penyakit hati dengan atau tanpa alkoholisme (terutama jika ada stomatosit). Polikromasia yang menandakan hitung retikulosit yang meningkat, akan meninggikan MCV dan gambaran hemolisis sel darah merah juga ada. Anemia normokromik makrositik dibagi menjadi dua, yaitu:

  1. Anemia Makrositik Nonmegaloblastik

Ada beberapa keadaan yang dapat timbul dengan anemia makrositik tanpa adanya eritropoiesis megaloblastik. Keadaan-keadaan ini, seperti defisiensi B12 atau folat dini, dapat makrositik tanpa terjadinya anemia yang nyata. Meskipun ini tampaknya agak memberatkan daftar penyebab, dalam mayoritas pasien, penyebabnya dapat terlihat pada penemuan klinis atau pada pemeriksaan awal. Jika megaloblastis telah dikesampingkan, pemeriksaan paling baik dilakukan melalui jalur normokromik normositik dan kebanyakan penyebab akhir yang menentukan dari anemia makrositik tersebut akan dapat ditemukan. Penyebab dari makrositosis (dengan atau tanpa anemia) tanpa adanya bukti megaloblastosis berat adalah:

  1. Retikulositpsis-hemolisis, perdarahan atau neonates.
  2. Toksin-alkohol, arsen
  3. Anemia aplastik, aplasia sel darah merah
  4. Anemia diseritropoietik
  5. Beberapa anemia sideroblastik akuisita
  6. Sindroma preleukimia
  7. Infiltrasi maligna dari sumsum tulang
  8. Beberapa keganasan hematologi dengan diseritropoiesis nyata
  9. Skorbut
  10. Malnutrisi protein
  11. Pasca splektomi
  12. Kehamilan
  13. Penyakit paru obstruktif menahun
  1. Anemia Megaloblastik Makrositik

Vitamin B12 dan asam folat dibutuhkan untuk sintesis asam deoksiribonukleat (DNA) normal. Defisiensi salah satu dari substansi ini akan menimbulkan defek maturasi nucleus dari sel, dan yang paling banyak terkena adalah sel-sel yang terus melakukan replikasi (sumsum tulang, mukosa usus, dan kuat). Pemeriksaan definitive untuk memastikan adanya eritropoiesis megaloblastik adalah pemeriksaan sumsum tulang dan identifikasi penyebab adalah dengan menilai status vitamin B12 dan folat. Kebanyakan klinisi akan meneyetujui bahwa tidak penting untuk melakukan pemeriksaan sumsum tulang dalam defisiensi B12 atau folat yang ringan, kecuali jika ada indikasi khusus lainnya. Tetapi dalam anemia makrositik berat dimana penyebabnya tidak segera dapat diketahui, pemeriksaan sumsum tulang menjadi suatu pemeriksaan penting.

  1. Anemia Normokromik Normositik

Description: K:KTIKTI YENYDATA KTI QGAMBAR ormo.PNG

Menurut Isbister, James (1999), ini adalah kelompok anemia dimana ukuran sel darah merah dan hemoglobinisasi tidak terpengaruh, sehingga pasien datang dengan anemia, jumlah sel darah merah yang berkurang, MCV (Mean Corpuscular Volume), MCH (Mean Corpuscular Hemoglobin), dan MCHC (Mean Corpuscular Hemoglobin Concentration) normal.

Menurut Varney (2010), berikut adalah pengkategorian etiologi anemia berdasarkan ukuran sel darah merah :

  1. Anemia Mikrositik (penurunan ukuran sel darah merah)
  1. Kekurangan zat besi
  2. Talassemia
  3. Gangguan Hemoglobin E (jenis hemoglobin genetik yang banyak ditemukan di Asia Tenggara)
  4. Keracunan timah
  5. Penyakit kronis (infeksi, tumor)
  1. Anemia Normositik (ukuran sel darah normal)
  1. Sel darah merah yang hilang atau rusak meningkat
    1. Kehilangan sel darah merah akut
  2. Gangguan Hemolisis darah
  1. Penyakit sel sabit hemoglobin (sickle cell disease)
  2. Gangguan C hemoglobin
  3. Sferocitosis (banyak ditemukan di Eropa Utara)
  4. Kekurangan G6PD (glucose-6phosphate dehydrogenase)
  5. Anemia hemolitik (efek samping obat)
  6. Anemia hemolisis autoimun
  1. Penurunan produksi sel darah merah
  1. Anemia aplastik (gagal sumsum tulang belakang yang mengancam jiwa)
  2. Penyakit kronis (penyakit hati, gagal ginjal, infeksi, tumor)
  1. Ekspansi-berlebihan volume plasma pada kehamilan dan hidrasi-berlebihan
  1. Anemia Makrositik (peningkatan ukuran sel darah merah)
  1. Kekurangan Vit. B12
  2. Kekurangan asam folat
  3. Hipotiroid
  4. Kecanduan alkohol
  5. Penyakit hati dan ginjal kronis

Jadi ibu hamil sudah mengkonsumsi Fe dengan benar tetapi  masih terdapat anemi maka perlu di pertimbangkan hal-hal lain oleh karena  penyebab anemi adalah multi factorial.